Pemuda tampan itu dilahirkan di salah satu tempat di Kota Pasuruan, Jawa Timur, tanggal sembilan bulan sepuluh, 20 tahun yang lalu. Dia hanya seorang dari sekian juta anak-anak Ibu Pertiwi. Dia besar dari keluarga yang biasa-biasa saja namun tak jadi jaminan mimpinya pun biasa pula.
Gizma. Itu adalah sebuah amanah pertama dari kedua orang tuanya tepat setelah pemuda ini dilahirkan. Kelahirannya disertai tentu dengan seluruh perangkat kepribadian dan akal budinya. Dari wawancara yang kulakukan, dari balik kacamatanya aku sempat melihat tatapan mata yang tajamnya mampu menembus tirai baja dari sebuah ruangan di belukar dunia yang dihuni manusia-manusia berkepentingan. Dia seorang yang anarkis, pemuda ini sendiri yang mengakui. Anarkis dalam definisi aslinya, bukan setelah mengalami pergeseran makna.
Lingkungan tempat Bung Gizma tumbuh memang, bila kita perhatikan, bukan sebuah lingkungan yang mungkin tidak akan atau kecil peluangnya untuk melahirkan warga negara yang baik dan beradab, namun, di balik dinding-dinding kamarnya, dia sanggup melahap karya tulis buah-buah pikiran filusuf-filusuf besar. Karl Marx, salah satunya yang dia sebut dan aku sempat ingat. Buku-buku fiksi pun tak masalah baginya. Tak ada alasan untuk tidak menyukai buku fiksi untuknya.
Tak jauh dari rumahnya ada sebuah terminal angkutan umum yang, ketika ada jadwal pertandingan tim sepak bola dari kota tersebut, mendadak beralih fungsi menjadi markas sementara para suporter tim sepak bola kesayangan masyarakat Pasuruan. Tak jarang tiap kali ibunda dari Gizma melintasi terminal itu ketika sedang beralih fungsi, sang bunda dimintai sejumlah uang oleh oknum-oknum suporter.
Pernah pula sekali waktu, di kota tempat dia tumbuh pula, kakeknya hampir ditebas batang lehernya karena dianggap menghalangi jalan dari sebuah truk yang mengangkut sekelompok orang yang membawa (semacam) demonstran padahal lampu di persimpangan masih menyala merah. Saat itu masih di masa-masa kerusuhan orde baru.
Bayangkan, dengan lingkungan yang seperti itu, dia masih selamat dibalik tumpukan buku-buku dan pemikiran-pemikiran hebat, dan mampu meneruskan dan menyelesaikan pendidikan menengahnya. Tak ayal, dia pun aktif sebagai remaja mesjid di sekolahnya. Sedari kecil, ayahnya selalu mendengung-dengungkan nama sebuah kampus di Kota Bandung. Ya, sekarang dia berada di kampus tersebut, di hadapanku, bercerita tentang secuil hidup dan pemikirannya dalam sebuah wawancara.
Gizma datang ke kampus ini dengan mimpi-mimpi besarnya: memajukan pariwisata di kampung halamannya dan menjadi Kepala Dinas Pendidikan di kota tempat dia dibesarkan atau, minimal, orang yang cukup berpengaruh dalam pengambilan keputusan mengenai kebijakan pendidikannya. Besar harapannya, yang dipupuk oleh cerita-cerita ayahnya tentang kampus ini, cita-citanya bisa dimulai dari kampus ini, kampus yang lingkungannya berisi masyarakat yang tidak seperti sebelum-sebelumnya dia temui, pikirnya.
Harapan kadang malah menjerumuskan pada kekecewaan. Begitu pun dengan harapan yang pernah Gizma genggam saat menjejakkan kaki pertama kali di Bumi Ganesha. Harapan itu sekarang sudah dia lempar entah ke mana. Entah di Boulevard, tong sampah bolong di dekat taman di kampus, atau tertinggal di meja perpustakaan yang hanya penuh oleh mahasiswa menjelang ujian saja. Dia buang tanpa perasaan seperti botol kemasan air mineral yang biasa berserakan di koridor gedung kuliah. Tak perlu aku ceritakan botol-botol kosong itu berasal dari mana.
Baginya, warga kampus yang biasa disebut civitas akademika ini tak jauh beda perilakunya dengan orang-orang yang pernah ditemuinya di masa kecil. Dengan kenyataan seperti ini lah idealisme seorang Gizma pudar. Kini dia memilih untuk hanya menjadi mahasiswa biasa yang bisa membanggakan kedua orang tuanya karena hanya tinggal itu yang menurutnya bisa dia lakukan. Mimpi-mimpi besar itu kandas, digilas kebanggaan-kebanggaan morbid yang berserakan di kampus ini. Kebanggaan kosong. Dari situ Gizma mulai memiliki pikiran yang lain tentang tanah airnya: Tunggu membusuk sendiri dan hancur, lalu bangun kembali dari awal.
“Udah hopeless, Kak”, tuturnya lagi
Lewat tulisan ini aku bukan hendak mengabadikan sosok seorang Gizma untuk dikagumi atau dikasihani. Aku, lewat tulisan ini, membangun sebuah monumen bernama Gizma beserta seluruh kisahnya yang disusun dari abjad-abjad sederhana bukan agar orang-orang sekedar mengenangnya. Aku bukan orang pada umumnya yang menganggap sebuah monumen sekedar sebagai sebuah penghargaan atas jasa seseorang atau sekelompok orang. Bagiku, monumen adalah sebuah penyampai pesan. Pesan pemikiran dan/atau perjuangan, beserta kisahnya, dari seseorang beserta wataknya, dari suatu zaman.
Lewat tulisan ini aku ingin menyampaikan pesan pada Gizma-Gizma lainnya di setiap penjuru negeri. Aku ingin mereka tahu bahwa mereka tidaklah sendirian. Lewat tulisan ini pula aku ingin Gizma-Gizma yang lain tetap menjaga semangat-semangat perjuangannya dan kalau perlu menularkannya pada teman-teman di kiri dan kanannya. Lewat tulisan ini, aku ingin setiap membaca menyadari bahwa masih adanya sosok-sosok seperti seorang Gizma ini cukup menjadi jawaban kenapa bangsa ini masih harus dan bisa diselamatkan.
Bandung, 28 Maret 2013
Hasil dari wawancara calon staf Badan Pengurus HMME ITB periode 2013/2014
Dunia akan terlihat berbeda tanpa kacamata yang biasa kita pakai. Semuanya buram. Terlebih lagi jika kalian adalah seorang penderita rabun jauh minus 3.5.untuk kedua bola mata. Kalian hanya akan menangkap citra dari warna-warna yang bergerak tanpa mengenal satu bentuk pun. Apalagi wajah. Minimal, dari setiap orang yang melintas, aku hanya mampu mengidentifikasi 5 warna: warna rambut, warna kulit, warna, baju, warna celana, dan warna sepatu atau alas kaki.
Namun ketika kita ingin mengurung diri dari dunia untuk sejenak, kecacatan indera penglihatan ini lantas berganti menjadi berkah tersendiri.Dari kaca buram imajiner yang dibentuk oleh lensa mata kita yang berfungsi kurang baik, semua terlihat menjadi lebih indah. Bagi kalian yang sempat penasaran seperti apa rasanya melihat ke dimensi lain atau mungkin bagaimana makhluk-makhluk halus itu melihat kita, mungkin aku bisa sedikit menceritakan walaupun ini hanya perumpamaan. Tapi, jujur saja, tanpa kacamataku, semua terlihat seperti dunia yang lain dari yang selama ini aku saksikan. Jauh berbeda dan aku melihatnya seperti melihat dari dunia yang lain pula. Seakan tidak benar-benar ada di sana.
Semua kesibukan dunia seakan teredam oleh citra yang kian kabur, tenggelam dalam buram. Yang ada hanya warna-warni yang hilir mudik melintas di hadapan. Semua noise itu lenyap. Ketenangan absolut dalam keramaian. Terisolasi dari dunia di sekeliling. Ya, ketenangan semacam ini yang aku rindukan.
Dari hiruk pikuk sekian warna-warni tadi, sebagian terlihat tengah menyiapkan suatu acara. Kajian mungkin. Karpet hijau digelar, layar putih diturunkan. Gema suara speaker yang sedang dicoba memantul-mantul pada diniding dan lantai beton selasar mesjid. Persiapan ini tampak seperti permainan puzzle warna-warni superbesar bagiku. Selagi lalu-lintas warna ini masih sibuk keluar dari dan masuk ke bingkai penglihatan, secangkir teh dalam genggaman kunikmati dengan khidmat. Mataku mungkin kurang andal untuk mengidentifikasi asap dari uap panasnya tapi indera peraba pada kulit wajahku bisa merasakan radiasi hangat tehnya yang terpancar dari cangkir logam mungil yang bergantung pada jari telunjuk dan jari tengahku dengan kupingnya.
Sampai akhirnya kajian yang tadi kuceritakan hendak dimulai. Dibuka dengan lantunan suci kalam Illahi. Dengan gema suara merdu qori yang membacakan ayat-ayatnya dan dimensi imajiner yang aku buat sendiri, sore yang sempurna ini telah digenapkan oleh secangkir teh manis panas yang masih menanti untuk kembali direguk.
Bandung, 4 Maret 2013, sekitar pukul 5 sore.
Selasar Mesjid Salman ITB
Pernahkah kita, di tengah kesibukan kita atau di perjalanan menuju tempat kesibukan kita, sesekali mencuri pandang ke langit di atas sana? Pernahkah terpikirkan oleh kita, jutaan galon air - yang biasanya mudah tumpah bahkan urusannya bisa rumit ketika air itu tumpah di atas karpet kesayangan ibu - sedang melayang-layang jauh di atas kepala kita? Pernahkah?
Kita memang bukan makhluk yang diciptakan untuk tinggal di langit. Seperti rajawali yang secara alami menguasai hukum-hukum mekanika fluida hingga dia bisa menentukan dengan tepatnya berapa Newton gaya apung yang dibutuhkannya untuk mencapai ketinggian tertentu dengan sepasang sayapnya. Bukan. Kita hanya kreasi dari tanah yang memang digolongkan menjadi mamalia darat. Kita hanya tinggal di kolong langit, di bawah sejumlah besar air yang melawan gravitasi (walaupun tunduk pada waktunya). Hanya sayang, saking sibuknya kita dengan dunia kecil yang kita buat sendiri, kita lupa apa yang menjadi atap kita selama ini. Kita lupa warna-warni keajaiban yang sudah disediakan Yang Maha Pencipta dan dititipkan di atmosfer planet ketiga di tata surya ini.
Pernahkah kalian melihat pelangi? Ya, terlepas dari kerumitan hukum-hukum alam yang mengaturnya, kita hanya tinggal menikmati hasil pembelokan sinar matahari oleh butir-butir air di sekitar kita. Indah, bukan? Pernahkah kita bersyukur akan pelangi yang ada setelah hujan lebat yang kadang sampai menumbangkan pohon mahoni tua di pinggir jalan? Ya, itu pun kalau kita ingat dan memperhatikan.
Pernahkah kalian melihat circumscribed halo? Bahasa ibu memang memiliki keterbatasan menyebut istilah-istilah ilmu pasti alamtapi ya sudah lah, bukan soal penamaan yang ingin aku bahas. Aku hanya ingin bercerita tentang apa-apa yang atmosfer ingin aku saksikan.
Cuaca agak bersahabat, dengan konvoi awan-awan yang berarak cukup merapat sehingga sinar matahari tidak seratus persen menabrak permukaan bumi siang ini walaupun, jujur saja, udara agak membuatku gerah. Kesalahan tidak sepenuhnya pada radiasi yang datang. Asap-asap kendaraan dan permukaan dengan reflektansi tinggi milik kendaraan serta jalanan beraspal cukup membuat gelombang radiasi terpantul beberapa kali di dekat permukaan sebelum akhirnya terpantul kembali ke angkasa.
Aku yang agak jenuh mencoba melirik ke langit dan, ya, kebesaran Yang Mahabesar memang tak pernah jauh dari orang-orang yang memperhatikan dan senantiasa berpikir. Iringan awan-awan cumulus seperti sekelompok biri-biri yang digiring oleh angin monsun, siap mencurahkan hujan di tempat yang ditentukan. Ada biri-biri besar yang memakai topi ternyata, jauh di sudut timur pandangan mata. Semburat biru langit malu di balik kristal-kristal es cirrus. Sisanya biru akibat karena selimut es milik cirrostratus.
Bayanganku nyaris tidak ada, pertanda sudut datang sang surya mendekati ubun-ubun kepala. Dongakan kepalaku berhasil membantu mataku menangkap wajahnya. Lewat perlindungan kaca hitam helmku tentunya. Ternyata sang surya tidak sendirian. Dia membawa busur yang jarang sekali dia perlihatkan. Busur warna-warni. Makin merah mendekati pusatnya (matahari), membiru sebaliknya. Luar biasa cantik. Seakan bintang timur itu mencoba tersenyum indah menyapa makhluk-makhluk kecil di bawahnya. Aku tersenyum balik, seraya memperhatikan sekitar. Sayang, mereka terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Jenuh duluan karena macet, mungkin.
Andai para pengguna jalan sesekali berhenti dan memperhatikan keajaiban di sekitarnya, mungkin tidak perlu kita mendengar dengusan, makian, atau klakson panjang yang mewakili isi kebun binatang dari mulut seorang pengemudi yang mendadak tempramental di jalan.
Bandung, 2 Januari 2013, sekitar pukul 11.00 WIB
Perjalanan pulang dari kampus
Tak pernah ada kata terlambat untuk belajar.
Ruangan serba putih dengan alat-alat canggih. Seragam serba putih. Jas putih. Putih mendominasi. Di ruangan kecil hampir serba putih ini cuma ada gadis kecil yang penglihatannya terganggu, saya yang mengantarnya kemari, asisten dokter, dan penguasa ruangan ini: sang dokter spesialis mata.
Agung namanya. Selain saya pernah mengenalnya (karena kedua bola mata saya yang menua sebelum waktunya ini pun pernah jadi pasiennya), nama itu juga disebut oleh tinta spidol di sisi sebuah buku iqro. Perwira kepolisian yang sekaligus dokter ini tengah asyik mengeja huruf hijaiyah.
Iseng memperhatikan, ternyata iqro jilid 1 yang tengah beliau coba khatamkan.
Wajah gembulnya tampak serius. Guratan-guratan di dahinya seakan menegaskan keinginannya untuk belajar. Bahkan tak satu helai uban di kepalanya pun berani memprotes.
Sementara pasien diurus oleh suster, aku mengamati Pak Agung diam-diam. Terharu. Seandainya mental seperti ini ada pada setiap manusia Indonesia.
Klinik Mata RS Imanuel, Bandung
Menjelang siang
Kepulan asap putih tebal melintas menyebrangi lautan lalu lintas, terbawa aliran angin lokal. Seperti biasa, kukira hanya aerosol hasil pembakaran sampah-sampah - tidak peduli organik atau entah - pada tempat yang tidak tepat. Tapi indera penciuman yang tengah menurun performanya karena flu ini menangkap sesuatu yang lain. Aroma yang khas. Kecap, daging yang terbakar arang. Sate?
Agak janggal memang kalau di tengah hari sepanas ini ada yang membakar potongan-potongan daging hewan berbumbu kecap untuk makan. Apalagi di tepi perempatan yang padat pengguna jalan. Mulai dari motor bebek yang cuma sebelah kaca spionnya sampai mobil SUV mewah yang harganya berorde 10 pangkat 8, atau bahkan 9. Tapi ini nyata, bagi mereka yang terbiasa hidup di jalanan, menyantap sate saat siang hari yang panas di tepi jalan adalah bentuk nyata dari karunia Yang Maha Esa.
Ini yang aku suka dari lampu merah di persimpangan. Perhentian sejenak bisa membelikan waktu lebih banyak untuk memperhatikan sekitar. Menyaksikan potret-potret kehidupan yang relatif menarik lalu diabadikan dalam karakter-karakter elektronik. Nenek-nenek pedagang sate gendong di perempatan di tengah hari mungkin memang janggal, tapi unik jadinya ketika sang nenek sedang beramah tamah sambil melayani nafsu makan sekelompok pemuda yang biasa masyarakat panggil dengan “berandalan”.
Mereka hanya sekelompok pemuda dengan penampilan - yang menurut persepsi mayoritas - berantakan, model rambut relatif aneh, pakaian serba gelap, kumal, dan sarat dengan opini negatif. Padahal tak selamanya mereka berperangai buruk. Mungkin saja sebenarnya mereka mengenakan sandang yang sarat dengan musik-musik keras untuk melambangkan kerasnya kehidupan mereka. Siapa yang tahu kalau sebenarnya bahkan perilaku mereka bisa lebih ramah atau bahkan lebih manusiawi dari kita yang menurut kita sendiri adalah kaum terdidik.
Seperti siang ini, contohnya. Pernahkah, ketika kita sedang membeli sate, kita membantu pedagangnya menyiapkan hidangan yang kita pesan? Menyiapkan arangnya kah, membumbui satenya kah, atau sekedar berbincang santai dengan niat lebih dekat dengan pedagangnya? Bukan basa-basi belaka, berniat untuk lebih dekat. Siang ini aku menjadi saksi betapa ramahnya mereka yang kita sebut berandalan itu. Aku menjadi saksi bagaimana sang nenek dan pemuda-pemuda ini saling bertukar cerita dan senyuman. Aku yang menjadi saksi bagaimana salah seorang dari sekelompok pemuda ini membantu sang nenek penjual sate gendong ini mengipas tungku arang agar tetap panas baranya.
Dan sebelum lampu berganti hijau, aku menitipkan harap pada secuil doa untuk generasi yang lebih baik.
Bandung, perempatan Jalan Aceh - Jalan Sutan Syahnil
13.45 WIB
Bagiku, tidak ada euforia yang lebih besar dibandingkan dengan euforia yang dialami oleh sekitar hampir 20% populasi dunia setiap malam tanggal 1 Syawal penanggalan Islam. Tak peduli berapapun usiamu, satu malam dari sekian malam dalam satu tahun ini akan menghapus kata sunyi, sepi, dan segala sinonimnya dari kamus mulai petang sampai setidaknya esok paginya.
Anak-anak kecil yang berkeliaran di jalanan sekitar rumahnya (sambil mencoba baju baru tentunya, bersama teman-temannya), wangi kuah opor dan masakkan has lebaran lainnya yang sedang dipanaskan dari dapur agar tak hilang kelezatannya esok pagi, telepon genggam yang akhirnya dimatikan deringnya karena tak hentinya berbunyi menerima pesan singkat berisi ucapan “selamat lebaran” dan “mohon maaf lahir batin”, dan tentu saja gema suara takbir yang tersamar dibalik suara ledakan petasan-petasan dan kembang api ecek-ecek.
Serius. Bahkan jika seluruh perguruan tinggi di Indonesia menginisiasi rangkaian acara “penerimaan mahasiswa baru” secara serentak, euforianya masih kalah jauh dengan ini.
Sementara itu, aku sendiri sedang duduk selonjoran di atas tempat tidur dengan laptop di pangkuan. Sembari menulis, aku meringis. Menyesal dalam diam (dan suara ketikan tuts keyboard). Sebulan (penuh berkah) yang lagi-lagi aku sia-siakan.
Ke-khusyu-an dalam beribadah. Itu istilah yang cukup asing bagi bocah-bocah. Mereka yang terbiasa mengejar layangan sampai ke tengah jalan kini disuruh duduk manis diam mendengarkan khutbah sebelum shalat tarawih. Walaupun zaman sekarang teknologi canggih bisa cukup membungkam tingkah liar mereka untuk beberapa jam. Sebut saja playstation, tablet pc, telepon genggam yang penuh dengan game, dan sejenisnya. Tapi ketika mereka jauh dari segala sarana kesenangan semu itu mereka pada akhirnya kembali ke jati diri mereka masing-masing. Anak-anak yang suka berlarian, bersenda gurau, dan jajan tentunya.
Malam ini langit cukup cerah walaupun tiupan angin cukup kuat untuk memaksaku menggigil kedinginan. Bintang-bintang tak malu bersinar dan bersaing siapa yang paling terang. Bapak khotib tengah menyampaikan nasihat-nasihat yang diniatkan untuk menguatkan iman para pendengarnya. Namun sayang, suara speaker masjid terlalu pelan. Atau memang berhasil diredam oleh suara derap kaki anak-anak sekitar yang berlarian kian kemari sambil tertawa lepas? Entahlah. Yang pasti, para bocah tengah bersenang-senang malam ini. Seperti malam-malam tarawih seperti biasanya.
Inilah yang terjadi ketika mereka sedang jauh dari teknologi. Apalagi pekarangan aspal di samping masjid sedang kosong. Ada yang bermain kucing-kucingan. Beberapa sedang jajan sambil bergosip ala bocah, ada yang berteriak, bergelantungan di pagar, ada yang tak bosan keluar-masuk masjid entah untuk apa, sampai ada yang kehilangan sebelah sendalnya. Bapak-bapak yang duduk di belakang akhirnya tak sabar dan menegur anak-anak yang sedang “sibuk” karena merasa terganggu. Tapi apalah arti sebuah teguran untuk anak-anak yang sedang menikmati surga dunianya?
Bulan pun tersenyum di langit hitam melihat tingkah mereka. Biarlah mereka bersenang-senang untuk malam ini. Kapan lagi mereka bisa berlarian bebas di atas lahan (aspal) tanpa harus diserang klakson kendaraan yang lewat atau teriakan para pekerja bangunan?
Selamat Hari Anak Nasional, hai putra-putri Nusantara!
Bandung, 23 Juli 2012
Masjid Ar-risallah kelurahan Kujangsari
Malam ini lapangan basket dan lapangan voli di kampus disulap menjadi arena sirkus, dengan mahasiswa junior sebagai pemain-pemainnya. Di bawah sorotan sinar dari tiga buah lampu halogen dan 900-an pasang mata mahasiswa-mahasiswa senior, para junior ini tengah kewalahan memuaskan “idealisme” kakak-kakaknya.
Bising. Gaduh. Para penonton di arena sirkus ini tak pernah puas. Ya, memang, pelanggan adalah raja. Saking kewalahannya para pemain sirkus ini ada yang harus mengundurkan diri ke pos medik. Entah karena memang sakit atau pura-pura sakit. Tapi menurutku, semuanya pasti sakit. Sakit telinga dan sakit hati.
Bukan sirkus, sebenarnya. Aku hanya meminjam istilah yang paling dekat untuk menggambarkan suasana forum bebas massa kampus ini. Forum yang dihadiri oleh manusia-manusia terpelajar dengan berbagai warna jaket mereka. Seperti pelangi di bawah langit malam, hanya saja aku tidak bisa melihat gradasi warnanya. Rigid. Tidak ada sama sekali pencampuran warna. Pelangi itu terlihat terputus-putus dengan garis-garis hitam tebal yang memisahkan setiap warna-warnanya.
Mereka mengaku mahasiswa, mengaku manusia terpelajar, tapi setiap kali adik-adiknya bersuara mereka selalu memotong dengan pekikan-pekikan kosong. Menuntut keseriusan, tapi keseriusan adik-adik mereka malam itu mereka jadikan bahan bercanda untuk kalangan mereka sendiri. Chaos. Disaat beberapa junior menangis, mereka tertawa-tawa. “Seru”, katanya.
Baru kali ini aku merasa tidak nyaman pada malam. Tak seperti biasanya. Malam ini langit sudah dikotori oleh polusi cahaya dari halogen pinjaman dan tawa lepas yang tidak pada tempatnya. Bumi Ganesha sudah terlalu termakan tradisi yang kian kemari makin kehilangan makna. Aku tak yakin mereka yang berjaket warna-warni ini datang karena benar-benar peduli pada adik-adik mereka. Aku tak melihat proses pendidikan di sini. Apanya yang memanusiakan manusia pada forum ini?
“Seru, lho, melihat anak-anak orang dimarahi!”
Bandung, 18 Juli 2012, ba’da isya sampai tengah malam
Lapangan basket CC barat ITB
Lagi-lagi perempatan jalan di malam hari menyuguhkan adegan yang tak bisa kulewatkan.
Untuk sejenak, kaca spion beralih fungsi menjadi semacam lukisan dalam sebuah bingkai yang bukan persegi. Di dalam bingkai tersebut terperangkap seorang anak jalanan dengan topinya. Menyusuri gang sempit yang dibangun oleh deretan mobi-mobil mewah, anak itu menghampiri setiap kaca jendela pintu mobil. Suplemen vitamin lah yang ditawarkannya.
Dari bingkai lukisan itu aku melihat punggung anak jalanan penjaja tablet vitamin c. Punggung mungil seorang bocah yang setia menemani pemiliknya untuk mencari rezeki di awal petang, ketika sebagian banyak orang tengah menikmati kemacetan sambil mengecap rindu pada rumahnya masing-masing. Entah kenapa, potret ini membuat hatiku merasa terenyuh. Apalagi setelah mata ini terfokus pada punggung anak tadi.
Memang harga yang ditawarkannya tidak wajar, tapi aku ragu anak itu bisa mendapat untung yang besar untuk setiap penjualannya. Walaupun setidaknya anak itu lebih memilih berusaha ketimbang meminta belas kasihan pengguna jalan hanya bermodalkan tampang memelas dan pakaian kumal.
Semangat, Dik. Semoga malam ini kau mendapat rezeki berlebih dan berkah.
Bandung, 18 Juli 2012 pukul 19.45 WIB
Perempatan Jalan Ir. H. Juanda - Jalan Merdeka
Kemacetan di bawah lampu merah di perempatan simpang Dago sudah menjadi pemandangan biasa di hari Sabtu sore. Waktu menunjukkan pukul 16.15 waktu setempat. Mobil-mobil mewah dari luar kota tengah mengantri menuju arah utara untuk berekreasi. Lembang, biasanya. Beberapa mengarah ke hotel-hotel yang terletak di Dago atas. Sebagian lagi tengah berburu kuliner khas dataran tinggi Bandung.
Dan seperti biasanya, situasi di bawah lampu merah diwarnai oleh pengisi acara tetapnya seperti pedagang asongan, pengamen, dan pengemis. Berbagai macam pengemis. Mulai dari anak-anak, remaja, ibu-ibu, ibu-ibu dengan anak yang entah anak kandungnya sendiri atau sewaan agar bisa membeli rasa iba pengguna jalan, kakek-kakek, atau nenek renta.
Di balik jendela depan mobil yang kukendarai ini kuabadikan secuil kejadian antara seorang ibu-ibu pengemis dengan anaknya, yang sekali lagi tak satu pun di bawah lampu merah tahu anak itu anak kandungnya atau bukan. Balita itu tengah dalam gendongan sang “ibu” ketika sedang menunjuk-nunjuk gambar yang dibawa oleh sebuah box mobil pengangkut. Gambar yang tak lazim bagi mereka. Gambar yang akan selamanya hanya menjadi gambar. Gambar yang menceritakan sebuah sajian yang imajiner, makanan yang mereka anggap hanya sebuah mitos kecuali untuk kalangan tertentu.
Sang “ibu” ikut menunjuk-nunjuk gambar tersebut mengikuti anaknya sambil bercerita, yang aku tak tahu apa, menghibur anak yang ada dalam timangannya.
Sebuah foto potongan kue brownies kukus lapis bolu stroberi di atas sebuah piring dengan sudut pengambilan gambar yang sempurna. Cukup sempurna sehingga kaum borjuis tergiur untuk membelinya seketika mereka lihat.
Dan di samping mobil box itu, sang “ibu dan anak” tersenyum kecil sambil memendam sesuatu. Setidaknya iklan itu cukup memberi warna pada kehidupan jalanan mereka untuk sepersekian detik.
Bandung, 14 Juli 2012 pukul 16.15
Lampu merah Perempatan Simpang Dago